Saat itu aku dan kamu berjalan-jalan di sekitar pelabuhan,
tempat favorit kita saat menyaksikan senja di langit petang. Sebuah rutinitas
sederhana namun tetap menyenangkan. Sepanjang jalan genggamanku tak pernah
lepas dari tanganmu, bahagia rasanya bisa melewatinya berdua denganmu.
“Sayang, besok kita kesini lagi kan ?” tanyaku manja padamu.
“Kalau besok tidak hujan, kita pasti kesini lagi kok”
jawabnya sambil tersenyum.
Aku senang mendengarnya, mudah-mudahan besok tidak hujan dan
kami bisa melihat senja indah itu lagi.
Aku dan mas Lintang, suamiku, telah menikah 2 tahun yang lalu. Rumah kontrakan kami memang dekat
sekali dengan pelabuhan penyebrangan antar pulau. Kebetulan juga mas Lintang
bekerja di kota seberang pulau yang kami tinggali. Maka setiap sore pula aku
datang ke pelabuhan dan menjemput mas Lintang. Saat mas Lintang tiba di
pelabuhan, kami tidak langsung memutuskan untuk segera pulang. Aku suka sekali
langit senja di sore hari. Biasanya aku merengek dengan mas lintang untuk
ditemani berjalan-jalan sebentar menikmati senja di pelabuhan itu. Aku sangat
beruntung memiliki suami yang baik dan setia padaku. Aku tau dia pasti sangat
lelah setelah seharian bekerja tapi masih tetap mau diajak berjalan-jalan oleh
istrinya yang manja seperti aku.
“Gak apa-apa kan, Mas kalau kita berjalan-jalan sebentar di
pelabuhan ? hari ini langitnya jingga sekali, indah Mas.” Kataku sambil memeluk
mesra suamiku itu.
“Iya, gak apa-apa. Langitnya memang indah, sayang untuk
dilewatkan. Nanti kalau mas gak bisa nemenin kamu liat senja, kamu bisa kan
jalan-jalan sendiri ?” katanya.
Aku sedikit tidak senang dengan pertanyaan mas Lintang itu, saat
itu juga ada perasaan yang tidak enak dalam hatiku.
“Maksud mas apa ? Tentu saja aku berani, tapi kamu harus
selalu menemaniku berjalan-jalan, Mas” jawabku dengan muka yang sedikit
cemberut.
Mas Lintang hanya tertawa mendengar jawabanku, di tambah
lagi dengan mukaku yang menurut mas
Lintang keliatan sangat lucu jika sedang cemberut seperti itu. Marah tapi tidak
terlihat seperti orang marah.
Betapa aku sangat mencintai suamiku, dia baik, setia, dan sayang denganku.
Tak pernah aku melihat dia marah padaku, walau terkadang sikapku sering
keterlaluan padanya. Kulihat wajahnya yang tampan dan bercahaya itu, dia
malaikatku, hidupku, semoga kami akan selalu bersama sampai menua.
“Aku mencintaimu, Mas” ujarku dengan tersenyum seraya
memeluknya dengan erat.
Dia tidak menjawab, dan hanya tersenyum serta mebalas pelukanku.
Pelukannya hangat, pelukan yang tidak ingin aku lepaskan. Tapi kenapa kali ini
rasanya sangat berbeda dari biasanya. Detak jantung mas Lintang terasa sangat
beda ritmenya. Ada apa ?
Setelah puas berjalan-jalan, kamipun pulang dan
beristirahat.
***
Keesokan harinya, mas Lintang telah bersiap-siap untuk
berangkat kerja. Akupun telah menyiapkan sarapan untuknya dan menemaninya makan.
Ada perasaan aneh saat aku melihat mas Lintang, rasanya aku ingin menangis,
entah kenapa. Setelah selesai sarapan, mas Lintang pun mengatakan sesuatu yang
menambah perasaanku semakin tak enak.
“Hari ini aku lembur, jadi kamu tidak perlu menungguku di
pelabuhan. Oh ya, jika kamu ingin berjalan-jalan melihat senja, kali ini sendiri
saja bisa kan ?” ucap mas Lintang.
Hatiku berdesir
hebat, ada yang aneh dengan mas Lintang. Perasaanku semakin tidak enak. Aku tidak menjawab pertanyaan mas Lintang, dan
hanya mengangguk perlahan. Aku ingin menangis, entah apa sebabnya.
Mas Lintangpun berangkat dengan tergesa-gesa, dia lupa akan
sesuatu, dia lupa mencium keningku. Aku hanya berdiri mematung di depan pintu
mengiringi kepergian mas Lintang.
Sore ini, langitnya tampak mendung sekali, anginnya juga
sangat kencang. Sepertinya akan turun hujan. Aku sedikit khawatir dengan mas
Lintang, kalau-kalau terjadi apa-apa dengannya di kapal. Tapi aku harus tetap
tenang, mas Lintang pasti akan pulang. Tak lama kemudian hujanpun turun dengan
sangat deras disertai dengan angin badai
yang membuat ranting-ranting pohon bergoyang sehingga bunyinya seperti sedang menghentak-hentak
di atas atap loteng rumahku.
Hujan terus turun, sudah satu jam berlalau dan belum juga
berhenti. Aku mulai takut. Tiba-tiba terdengar suara ribut orang-orang di luar rumah, sebagian besar adalah para
nelayan yang tinggal di dekat rumahku. Ku
panggil salah seorang diantara mereka.
“Ada apa ini, Pak. Kok ribut-ribut ?” tanyaku heran.
“Ada kapal tenggelam saat menuju ke pelabuhan ini, Bu. Katanya sih
kelebihan muatan dan diterjang badai.” jawab nelayan tersebut.
Aku sangat kaget mendengar hal itu, tiba-tiba aku teringat
akan mas Lintang. Aku teringat sesuatu, dan akupun menangis saat itu.
Entah sudah berapa lama aku menangis, dan saat itu juga
hujan dan badai telah berhenti. Ke dengar ada orang yang mengetuk pintu. Cepat-cepat
kubuka untuk melihat siapa yang datang. Ada sedikit kelegaan melihat laki-laki
ini telah kembali dengan selamat. Aku tersenyum, tapi aku masih ingin menangis lagi.
Ku tahan air mataku, ku tatap lelaki itu dalam-dalam.
“Mengapa kamu melihatku seperti itu, sayang ?” tanyanya
padaku.
Aku mendekatinya dan memperhatikannya lagi dengan seksama.
“Siapa sebenarnya dirimu ?” tanyaku.
“Apa maksudmu ? Tentu
saja aku suamimu, siapa lagi ?” jawabnya dengan raut muka yang sedikit
khawatir.
“Jawab pertanyaanku, siapa dirimu ?” bentakku.
Dia hanya tertunduk dan tersenyum padaku.
“Sekarang kamu sudah sadar, Kirana ?” ujarnya.
“Apa maksudmu ? siapa dirimu ? kamu bukan suamiku, kamu
bukan mas Lintang ! ” tanyaku semakin penasaran.
“Ya, aku memang bukan Lintang dan berpura-pura menjadi
Lintang agar melihatmu tetap tersenyum.” Jawab lelaki itu.
Aku hanya terdiam mendengarkan dan menunggunya melanjutkan cerita.
“Setahun yang lalu, aku berkenalan dengan laki-laki yang
kebetulan bekerja di tempat yang sama denganku. Kata rekan-rekan kerja yang
lain, wajah kami sangat mirip. Kami cukup dekat, dan dia sering menceritakan
padaku tentang istrinya yang manja, dan suka sekali dengan senja. Suatu hari
ada yang berbeda dari suamimu, tiba-tiba saja dia mengatakan bahwa jika nanti
ia tidak bisa menemani istrinya untuk melihat senja, dia memintaku untuk
menemani istrinya itu, dan dia juga meminta agar aku selalu menjaga istrinya,
menjaga senyum manisnya.” Ungkap lelaki itu.
Lelaki itu terdiam sejenak untuk menghela nafas. Aku sendiri
masih membeku dalam kesedihanku. Tak lama ia pun melanjutkan ceritanya.
“Sampai akhirnya malapetaka itu terjadi, kapal yang
ditumpangi suamimu tenggelam karena badai hujan, dan jenazah suamimu tak dapat
ditemukan. Aku sempat terpikir akan dirimu, aku yakin kamu pasti menanti
kepulangannya, dan sangat terpukul dengan apa yang telah terjadi dengan
suamimu. Aku pun memutuskan untuk menyebrang ke pulau ini di sore hari. Benar saja
ketika aku sampai, ada seorang wanita yang tiba-tiba saja memelukku sambil
menangis, dan memanggilku dengan nama Lintang berulang-ulang kali. Saat itu juga
aku langsung tahu bahwa wanita itu adalah kamu, Kirana. Menurut para nelayan di pelabuhan,
kamu sering menunggu suamimu pulang saat sore hari, dan kembali ke rumah sambil menangis saat langit senjamu sudah
habis serta suamimu tak juga kunjung datang.” Ujar lelaki itu.
“Maafkan aku, Kirana. Awalnya aku tak berniat mebohongimu,
tapi aku ingat permintaan terakhir suamimu, untuk selalu menjagamu, untuk selalu menjaga senyum manis di bibirmu. Kini
kau sudah sadar bahwa suamimu telah tiada, dan dia tidak akan pernah kembali
bersamamu, bersama senjamu.” tambahnya.
Aku menangis semakin menjadi-jadi, aku semakin tidak dapat
menerima kenyataan ini. Mas Lintang yang ku kira suamiku ternyata bukanlah mas
Lintangku. Aku tersadar dari khayalanku, aku sadar mas Lintang telah tiada. Aku
sadar hari itu adalah senja terakhirku bersama mas Lintang.
“Kamu datang bersama senja yang sama-sama aku nanti di
setiap petang,
Jingga yang teduh nan indah dan selalu kurasakan berdua bersamamu,
Kini senja kita telah usai, sayang, dan hari itu adalah senja kita yang terakhir.”