Senin, 20 Januari 2014

Senja Terakhir


Saat itu aku dan kamu berjalan-jalan di sekitar pelabuhan, tempat favorit kita saat menyaksikan senja di langit petang. Sebuah rutinitas sederhana namun tetap menyenangkan. Sepanjang jalan genggamanku tak pernah lepas dari tanganmu, bahagia rasanya bisa melewatinya berdua denganmu.
“Sayang, besok kita kesini lagi kan ?” tanyaku manja padamu.
“Kalau besok tidak hujan, kita pasti kesini lagi kok” jawabnya sambil tersenyum.
Aku senang mendengarnya, mudah-mudahan besok tidak hujan dan kami bisa melihat senja indah itu lagi.

Aku dan mas Lintang, suamiku, telah  menikah 2 tahun  yang lalu. Rumah kontrakan kami memang dekat sekali dengan pelabuhan penyebrangan antar pulau. Kebetulan juga mas Lintang bekerja di kota seberang pulau yang kami tinggali. Maka setiap sore pula aku datang ke pelabuhan dan menjemput mas Lintang. Saat mas Lintang tiba di pelabuhan, kami tidak langsung memutuskan untuk segera pulang. Aku suka sekali langit senja di sore hari. Biasanya aku merengek dengan mas lintang untuk ditemani berjalan-jalan sebentar menikmati senja di pelabuhan itu. Aku sangat beruntung memiliki suami yang baik dan setia padaku. Aku tau dia pasti sangat lelah setelah seharian bekerja tapi masih tetap mau diajak berjalan-jalan oleh istrinya yang manja seperti aku.

“Gak apa-apa kan, Mas kalau kita berjalan-jalan sebentar di pelabuhan ? hari ini langitnya jingga sekali, indah Mas.” Kataku sambil memeluk mesra suamiku itu.
“Iya, gak apa-apa. Langitnya memang indah, sayang untuk dilewatkan. Nanti kalau mas gak bisa nemenin kamu liat senja, kamu bisa kan jalan-jalan sendiri ?” katanya.
Aku sedikit tidak senang dengan pertanyaan mas Lintang itu, saat itu juga ada perasaan yang tidak enak dalam hatiku.
“Maksud mas apa ? Tentu saja aku berani, tapi kamu harus selalu menemaniku berjalan-jalan, Mas” jawabku dengan muka yang sedikit cemberut.
Mas Lintang hanya tertawa mendengar jawabanku, di tambah lagi dengan mukaku yang menurut  mas Lintang keliatan sangat lucu jika sedang cemberut seperti itu. Marah tapi tidak terlihat seperti orang marah.
Betapa aku sangat mencintai  suamiku, dia baik, setia, dan sayang denganku. Tak pernah aku melihat dia marah padaku, walau terkadang sikapku sering keterlaluan padanya. Kulihat wajahnya yang tampan dan bercahaya itu, dia malaikatku, hidupku, semoga kami akan selalu bersama sampai menua.
“Aku mencintaimu, Mas” ujarku dengan tersenyum seraya memeluknya dengan erat.
Dia tidak menjawab, dan hanya tersenyum serta mebalas pelukanku. Pelukannya hangat, pelukan yang tidak ingin aku lepaskan. Tapi kenapa kali ini rasanya sangat berbeda dari biasanya. Detak jantung mas Lintang terasa sangat beda ritmenya. Ada apa ?
Setelah puas berjalan-jalan, kamipun pulang dan beristirahat.

***

Keesokan harinya, mas Lintang telah bersiap-siap untuk berangkat kerja. Akupun telah menyiapkan sarapan untuknya dan menemaninya makan. Ada perasaan aneh saat aku melihat mas Lintang, rasanya aku ingin menangis, entah kenapa. Setelah selesai sarapan, mas Lintang pun mengatakan sesuatu yang menambah perasaanku semakin tak enak.
“Hari ini aku lembur, jadi kamu tidak perlu menungguku di pelabuhan. Oh ya, jika kamu ingin berjalan-jalan melihat senja, kali ini sendiri saja bisa kan ?” ucap mas Lintang.
Hatiku  berdesir hebat, ada yang aneh dengan mas Lintang. Perasaanku semakin tidak enak.  Aku tidak menjawab pertanyaan mas Lintang, dan hanya mengangguk perlahan. Aku ingin menangis, entah apa sebabnya.

Mas Lintangpun berangkat dengan tergesa-gesa, dia lupa akan sesuatu, dia lupa mencium keningku. Aku hanya berdiri mematung di depan pintu mengiringi kepergian mas Lintang.

Sore ini, langitnya tampak mendung sekali, anginnya juga sangat kencang. Sepertinya akan turun hujan. Aku sedikit khawatir dengan mas Lintang, kalau-kalau terjadi apa-apa dengannya di kapal. Tapi aku harus tetap tenang, mas Lintang pasti akan pulang. Tak lama kemudian hujanpun turun dengan sangat deras  disertai dengan angin badai yang membuat ranting-ranting pohon bergoyang sehingga bunyinya seperti sedang menghentak-hentak di atas atap loteng rumahku.
Hujan terus turun, sudah satu jam berlalau dan belum juga berhenti. Aku mulai takut. Tiba-tiba terdengar suara  ribut orang-orang  di luar rumah, sebagian besar adalah para nelayan yang tinggal di dekat rumahku.  Ku panggil salah seorang diantara mereka.
“Ada apa ini, Pak. Kok ribut-ribut ?” tanyaku heran.
“Ada kapal tenggelam saat  menuju ke pelabuhan ini, Bu. Katanya sih kelebihan muatan dan diterjang badai.” jawab nelayan tersebut.

Aku sangat kaget mendengar hal itu, tiba-tiba aku teringat akan mas Lintang. Aku teringat sesuatu, dan akupun menangis saat itu.

Entah sudah berapa lama aku menangis, dan saat itu juga hujan dan badai telah berhenti. Ke dengar ada orang yang mengetuk pintu. Cepat-cepat kubuka untuk melihat siapa yang datang. Ada sedikit kelegaan melihat laki-laki ini telah kembali dengan selamat. Aku tersenyum, tapi aku masih ingin menangis lagi. Ku tahan air mataku, ku tatap lelaki itu dalam-dalam.
“Mengapa kamu melihatku seperti itu, sayang ?” tanyanya padaku.
Aku mendekatinya dan memperhatikannya lagi dengan seksama.
“Siapa sebenarnya dirimu ?” tanyaku.
“Apa maksudmu ?  Tentu saja aku suamimu, siapa lagi ?” jawabnya dengan raut muka yang sedikit khawatir.
“Jawab pertanyaanku, siapa dirimu ?” bentakku.
Dia hanya tertunduk dan tersenyum padaku.
“Sekarang kamu sudah sadar, Kirana ?” ujarnya.
“Apa maksudmu ? siapa dirimu ? kamu bukan suamiku, kamu bukan mas Lintang ! ” tanyaku semakin penasaran.
“Ya, aku memang bukan Lintang dan berpura-pura menjadi Lintang agar melihatmu tetap tersenyum.” Jawab lelaki itu.

Aku hanya terdiam mendengarkan  dan menunggunya melanjutkan cerita.

“Setahun yang lalu, aku berkenalan dengan laki-laki yang kebetulan bekerja di tempat yang sama denganku. Kata rekan-rekan kerja yang lain, wajah kami sangat mirip. Kami cukup dekat, dan dia sering menceritakan padaku tentang istrinya yang manja, dan suka sekali dengan senja. Suatu hari ada yang berbeda dari suamimu, tiba-tiba saja dia mengatakan bahwa jika nanti ia tidak bisa menemani istrinya untuk melihat senja, dia memintaku untuk menemani istrinya itu, dan dia juga meminta agar aku selalu menjaga istrinya, menjaga senyum manisnya.” Ungkap lelaki itu.

Lelaki itu terdiam sejenak untuk menghela nafas. Aku sendiri masih membeku dalam kesedihanku. Tak lama ia pun melanjutkan ceritanya.

“Sampai akhirnya malapetaka itu terjadi, kapal yang ditumpangi suamimu tenggelam karena badai hujan, dan jenazah suamimu tak dapat ditemukan. Aku sempat terpikir akan dirimu, aku yakin kamu pasti menanti kepulangannya, dan sangat terpukul dengan apa yang telah terjadi dengan suamimu. Aku pun memutuskan untuk menyebrang ke pulau ini di sore hari. Benar saja ketika aku sampai, ada seorang wanita yang tiba-tiba saja memelukku sambil menangis, dan memanggilku dengan nama Lintang berulang-ulang kali. Saat itu juga aku langsung tahu bahwa wanita itu adalah kamu,  Kirana. Menurut para nelayan di pelabuhan, kamu sering menunggu suamimu pulang saat sore hari, dan kembali ke rumah  sambil menangis saat langit senjamu sudah habis serta suamimu tak juga kunjung datang.” Ujar lelaki itu.
“Maafkan aku, Kirana. Awalnya aku tak berniat mebohongimu, tapi aku ingat permintaan terakhir suamimu, untuk selalu menjagamu,  untuk selalu menjaga senyum manis di bibirmu. Kini kau sudah sadar bahwa suamimu telah tiada, dan dia tidak akan pernah kembali bersamamu, bersama senjamu.” tambahnya.

Aku menangis semakin menjadi-jadi, aku semakin tidak dapat menerima kenyataan ini. Mas Lintang yang ku kira suamiku ternyata bukanlah mas Lintangku. Aku tersadar dari khayalanku, aku sadar mas Lintang telah tiada. Aku sadar hari itu adalah senja terakhirku bersama mas Lintang.

Kamu datang bersama senja yang sama-sama aku nanti di setiap petang,
Jingga yang teduh nan indah dan  selalu kurasakan berdua bersamamu,
Kini senja kita telah usai, sayang,  dan hari itu adalah senja kita yang terakhir.”

Kamis, 09 Januari 2014

Dia

Dia adalah kamu yang hingga kini masih selalu aku harapkan kehadirannya, tidak perlu nyata tapi setidaknya ada.
Dia adalah kamu yang sampai ini masih menjadi tempat aku menyandarkan rindu, tidak perlu kokoh tapi setidaknya mampu menyokongku.
Dia adalah kamu yang selalu mampu membuatku menunggu waktu yang selalu maju, arahnya tak pernah berbalik kembali ke masa-masa itu.
Ini selalu tentang dia yang masih meninggalkan tanda pada ingatanku yang sering datang tiba-tiba.
Ini selalu tentang dia yang masih menggoreskan luka yang selalu ingin aku sembuhkan.
Ini selalu tentang dia yang masih mewarnakan abu-abu pada tanya tentang hati dan rasanya.
Dia... 

ku tuliskan ini untuknya...